Senin, 05 Desember 2016

Masih Saja Aku Mencintaimu



Masih saja aku mencintaimu.
Seolah, tak pernah habis perasaanku kepadamu.

Mungkin ini cinta yang tak akan pupus.
Seperti arah mata angin yang tak berubah.
Yang selalu membawa tatapan mataku tertuju padamu lagi.
Yang menjadikan hatiku, jatuh padamu kembali.

Aku masih di sini.
Di antara ragu dan harap yang saling berseteru.
Hatiku yang mengatakan iya.
Dan logikaku yang berkata tidak.

Kamu mungkin tak paham perasaan yang kumiliki.
Namun jikapun kamu paham, apa kamu bisa menggenapinya?
Melengkapi gambar hati yang separuh,
Yang kubuat padamu, dan tak kunjung selesai karena pilihanmu adalah tidak.

Masih saja aku mencintaimu.
Dibuat bodoh oleh perasaanku sendiri.
Ah, jika saja setiap kita bangun pagi, tak hanya hari yang diperbarui, namun juga hati dan pikiran.
Tak perlu aku mencintaimu lagi,
Tak perlu aku terkenangmu lagi.

Selasa, 29 November 2016

Luka yang Mewujud Cerita

Setiap dari kita pernah mengalami setidaknya satu momen dalam hidup dimana kita merasa terluka begitu dalam. Dan setiap dari kita, mengalaminya dalam berbagai rupa. Mungkin kehilangan, mungkin dikhianati, mungkin ditolak, mungkin juga terabaikan. Namun semua memiliki satu rupa yang sama yaitu menyisakan rasa sakit di hati.

Berangkat dari luka itu pulalah, premis kisah-kisah Blue Valley bermula. Berada di universe yang sama, sebuah komplek perumahan di selatan Jakarta, para tokoh memulai kisahnya. 5 penulis didapuk menjadi pencerita. Mereka yang telah berdialog langsung dengan para penghuni di sana. Bertemu dengan seorang wanita yang kehilangan cinta satu-satunya dalam hidup, lelaki muda yang menatap kelam sebuah hubungan, suami-istri yang tak lagi bertemu harap, dan lainnya. Kalian harus mendengarkan kisah mereka. Temui mereka dalam cerita-cerita yang ditulis dalam Blue Valley series.

Menyoal luka, saya mendapat kesempatan untuk bertemu Gamal dan Ninna. Suami-istri yang telah melewati 5 tahun kehidupan pernikahan. Sebagian besar dari kita setuju, bahwa pernikahan akan menjadi lengkap dengan hadirnya seorang anak. Begitupula Gamal dan Ninna. Mereka memulai kehidupan rumah tangga dengan perencanaan yang matang. Mereka bahkan memikirkan, desain rumah yang mereka inginkan, tanaman di halaman, dapur tempat Ninna memasak, juga termasuk anak. Berapa anak yang akan mereka punya? Bersekolah dimana kah? Kegiatan apa yang akan diikutinya? Namun rencana hanya menjadi mimpi yang tak pernah terealisasi ketika Ninna divonis kanker rahim dan harus menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim), yang itu juga berarti, mereka harus mengubur impian untuk memiliki anak.

Hal ini yang kemudian menjadi fokus utama cerita Melankolia Ninna. Kita boleh saja bersedih karena kehilangan sesuatu. Namun, bagaimana jika yang hilang justru adalah sebuah harapan? Mimpi-mimpi yang telah dipupuk demikian lama.

Selama proses penulisan Melankolia Ninna, saya memposisikan diri berada di antara keduanya. Melihat Ninna yang mencoba bangkit lagi setelah momen duka, Juga menoleh ke arah Gamal yang ingin hidupnya terus berlanjut, namun kaki masih terantai duka yang lalu.

Bagaimanakah kedua orang ini melalui masalah yang mereka hadapi? Dengarkan kisah mereka dalam Melankolia Ninna. Terbit Desember 2016.

Melankolia Ninna oleh Robin Wijaya
Blue Valley series by Falcon Publishing

Di pojok selatan Jakarta, kau akan menemukannya. Tempat itu tak sepanas bagian Jakarta lainnya. Langit di sana sering berubah seolah mengikuti suasana hati penghuninya. Kau akan bisa menemukannya dengan mudah. Ada banyak rumah di sana. Orang menyebut tempat itu Blue Valley.
Dari gerbang, ambillah jalan ke kanan, dan temukan satu-satunya rumah yang berpagar. Kau tidak akan salah. Pemiliknya adalah sepasang suami istri. Sang suami pandai merupa kayu-kayu menjadi perabot yang indah, sedangkan sang istri menata rumah dengan nuansa vintage yang meneduhkan. Bersama-sama, keduanya menghidupkan ruang impian mereka: sebuah kamar bayi yang dipenuhi warna.
Namun, duka menghampiri. Sang istri kehilangan rahimnya sebelum sempat mengandung impian mereka. Menyisakan luka yang mewujud sebuah melankolia. Gamal dan Ninna, menatap pupus harapan, seperti hidup yang hanya menyisakan warna kelabu saja.


Baca juga kisah-kisah lainnya:
Elegi Rinaldo oleh Bernard Batubara
Senandika Prisma oleh Aditia Yudis
Asa Ayuni oleh Dyah Rinni
Lara Miya oleh Erlin Natawiria


Senin, 03 Oktober 2016

Tak Mengubah Takdirku Padamu

picture by unsplash.com


Aku tahu...
Sebagian keindahan yang Tuhan ciptakan terangkum dalam matamu.
Satu-satunya yang tak pernah bosan kutatapi.
Yang tak mungkin kulewatkan dalam lelah sekali pun.

Ini siang tempat aku berlindung dari terik.
Menunggu dengar suaramu.
Sebagai teduh yang tak memerlukan apapun lagi sebagai pelengkapnya.

Aku mengerti seperti apa bahagia itu.
Ketika aku bersamamu, aku selalu merasa cukup.
Ketika kau ada, aku merasa lengkap.

Bolehkah kita menyemai harap?
Bolehkah aku menyebutmu segalanya?
Bolehkah kau balas mencintaiku dengan selalu?
Bolehkah?

Sore ini, ada yang lebih penting untuk kita lewati.
Batas di tepi hari.
Dimana kau akan memilih.
Jatuh ke pelukanku lagi.
Atau tenggelam bersama kenangan lama.

Apapun itu.
Tak mengubah takdirku padamu...

Kamis, 29 September 2016

Tak Kusegerakan Usai

I owe the picture here


Tinggallah barang sejenak saja.
Tak kuhentikan waktu.
Biar bersamamu, meski sekejap.
Waktu terasa tak lekas usang.

Doa-doa malam,
adalah wajahmu yang ku aminkan.
Celah-celah mimpi berisi namamu.

Ini aku.
Menyebutmu dalam bahagia.
Kau, lembar terakhir buku ceritaku.
Tempat aku menuju,
mengakhiri rindu.

Kuluputkan lupa.
Ingatanku adalah ruang-ruang tempat kau bersembunyi.
Cinta adalah caraku untuk mencari.
Dan upaya kita adalah temu di antaranya.

Tinggalah barang sejenak saja.
bersamamu...
tak ingin kusegerakan usai.

Kamis, 01 September 2016

Ruang Di Sela-Sela Jariku

I owe the picture here

Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan ruang di sela-sela jarimu?
Karena Tuhan akan mengirim seseorang untuk mengisi ruang tersebut.
Menggenggam jemarimu suatu saat.

Mendekatlah, telah kusiapkan pelukan terhangat ketika kau pulang.
Kau tak perlu menjamin kebahagiaanmu.
Seperti aku yang tak mampu memberikan bahagia yang terlampau sempurna.
Karena aku hanya punya sebuah janji sederhana.
Kesediaan untuk ikut menangis bersamamu ketika kau bersedih.
Atau luapan kegembiraan atas kemenanganmu.

Kau tahu kenapa kita selalu butuh rumah?
Karena dari sana lah cinta bermula.

Dan seperti perjalanan panjang yang berakhir dengan pulang.
Seperti itu lah seharusnya cinta.
Aku yang menunggumu di muka pintu.
Dan langkah kakimu yang menuju kepadaku.

Sini, telah kusiapkan sebelah genggaman tangan untukmu.
Seperti cinta yang Tuhan kirimkan pada ruang di sela-sela jariku.
Hanya kau yang mampu memenuhinya...