Langsung ke konten utama

Pos

Catatan Pagiku Tentang Mencintaimu

Mungkin terdengarnya, ini terlalu awal untuk diucapkan.
Tetapi, dalam 3 hari terakhir setidaknya, sudah beberapa kali aku merasakan, bahwa mungin aku tak akan bisa hidup tanpamu.
Tanpa mencintaimu. Walau sekejap saja.

Beberapa tahun lalu, kita memulai ini tanpa letupan cinta seperti yang dialami remaja.
Aku menilai, caramu mencintai begitu sederhana dan tak terlihat mengada-ngada.
Kamu tak memasang satu standar tertentu, bahwa mencintai seharusnya seperti ini, atau seperti itu.
Kamu mencintai dengan caramu seharusnya mencintai.
Dan kamu ingin dicintai, sebagaimana cinta itu semestinya mencintai.

Pagi lalu, ketika aku terjaga dan menemukanmu di sebelahku.
Aku telah merasakan momen terbaik dalam hidupku.
Dan aku berani bertaruh apapun, untuk menemukan pagi yang sama lagi seperti kemarin.
Tentu, dengan keberadaanmu.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang.
Terkadang, ketakutan itu muncul, bahwa perjalanan yang panjang ini akan diselipi beberapa luka.
Namun, tahukah kamu, b…
Pos terbaru

Welcome Home, Sayang!

Aku, mungkin seperti kebanyakan orang lainnya.
Yang selalu menganalogikan cinta sebagai rumah.
Untuk kembali pulang.
Untuk beristirahat sejenak.
Untuk berlindung dari terik maupun dingin.

Dan kamu adalah pengelana yang selalu ingin pergi.
Yang selalu mencari.
Yang terkadang, berjalan seperti tak punya arah pasti.

Namun, semua pengelana pun butuh rumah.
Sesungguhnya pergi adalah sebuah perjalanan untuk kembali.
Maka, aku tak akan memintamu bergegas pulang.
Kubiarkan kamu berada di sebuah ruang bernama entah.
Biar kamu mencari apa yang ingin kamu cari.
Menemukan apa yang ingin kamu temukan.

Aku hanya perlu setia.
Pada peluk hangat yang selalu kujadikan sambutan atas kepulanganmu.
Pada senyum yang tak kugugurkan dengan segera begitu kamu datang.
Pada genggaman yang senantiasa hangat di sela-sela jarimu.

Welcome home, Sayang.
Telah kusiapkan kado terindah atas kedatanganmu.
Cinta...
yang tak pernah menolak adamu buatku.

Kotak Kenangan

Apa yang akan kamu lakukan ketika seseorang meletakkan sekotak kenangan di depan rumahmu? Menyisipkan sebagian yang ingin kamu ingat, dan sebagian lainnya tidak. Mungkin ini lebih dari sekadar persoalan masa lalu dan ingatan. Bahwa sebaiknya kaki yang telah melangkah, tak perlu lagi dijerat bayang-bayang. Bahwa kepalamu yang menatap lurus ke depan, sebaiknya tak perlu lagi menoleh ke belakang.
Kita adalah manusia. Mengingat-ingat adalah salah satu kegemaran kita. Merupa kejadian dalam kepala, yang kerap mendulang senyum kembali. Atau merasai lagi luka-luka yang lampau itu. Karena sakit di hati, tak pernah bisa diobati, kecuali kita memilihnya sendiri.
Sesungguhnya, hidup kita tidak diperkarai hal itu saja. Selemah-lemahnya ingatan menolak, bukankah hati tetap harus dikuatkan. Jadi… jangan lekas gembira jika seseorang meletakkan sekotak kenangan di depan rumah. Kalau tidak ditinggalkan saja, sebaiknya kembalikan saja pada yang punya.

Masih Saja Aku Mencintaimu

Masih saja aku mencintaimu.
Seolah, tak pernah habis perasaanku kepadamu.

Mungkin ini cinta yang tak akan pupus.
Seperti arah mata angin yang tak berubah.
Yang selalu membawa tatapan mataku tertuju padamu lagi.
Yang menjadikan hatiku, jatuh padamu kembali.

Aku masih di sini.
Di antara ragu dan harap yang saling berseteru.
Hatiku yang mengatakan iya.
Dan logikaku yang berkata tidak.

Kamu mungkin tak paham perasaan yang kumiliki.
Namun jikapun kamu paham, apa kamu bisa menggenapinya?
Melengkapi gambar hati yang separuh,
Yang kubuat padamu, dan tak kunjung selesai karena pilihanmu adalah tidak.

Masih saja aku mencintaimu.
Dibuat bodoh oleh perasaanku sendiri.
Ah, jika saja setiap kita bangun pagi, tak hanya hari yang diperbarui, namun juga hati dan pikiran.
Tak perlu aku mencintaimu lagi,
Tak perlu aku terkenangmu lagi.

Luka yang Mewujud Cerita

Setiap dari kita pernah mengalami setidaknya satu momen dalam hidup dimana kita merasa terluka begitu dalam. Dan setiap dari kita, mengalaminya dalam berbagai rupa. Mungkin kehilangan, mungkin dikhianati, mungkin ditolak, mungkin juga terabaikan. Namun semua memiliki satu rupa yang sama yaitu menyisakan rasa sakit di hati.

Berangkat dari luka itu pulalah, premis kisah-kisah Blue Valley bermula. Berada di universe yang sama, sebuah komplek perumahan di selatan Jakarta, para tokoh memulai kisahnya. 5 penulis didapuk menjadi pencerita. Mereka yang telah berdialog langsung dengan para penghuni di sana. Bertemu dengan seorang wanita yang kehilangan cinta satu-satunya dalam hidup, lelaki muda yang menatap kelam sebuah hubungan, suami-istri yang tak lagi bertemu harap, dan lainnya. Kalian harus mendengarkan kisah mereka. Temui mereka dalam cerita-cerita yang ditulis dalam Blue Valley series.

Menyoal luka, saya mendapat kesempatan untuk bertemu Gamal dan Ninna. Suami-istri yang telah melewati…

Tak Mengubah Takdirku Padamu

picture by unsplash.com

Aku tahu...
Sebagian keindahan yang Tuhan ciptakan terangkum dalam matamu.
Satu-satunya yang tak pernah bosan kutatapi.
Yang tak mungkin kulewatkan dalam lelah sekali pun.

Ini siang tempat aku berlindung dari terik.
Menunggu dengar suaramu.
Sebagai teduh yang tak memerlukan apapun lagi sebagai pelengkapnya.

Aku mengerti seperti apa bahagia itu.
Ketika aku bersamamu, aku selalu merasa cukup.
Ketika kau ada, aku merasa lengkap.

Bolehkah kita menyemai harap?
Bolehkah aku menyebutmu segalanya?
Bolehkah kau balas mencintaiku dengan selalu?
Bolehkah?

Sore ini, ada yang lebih penting untuk kita lewati.
Batas di tepi hari.
Dimana kau akan memilih.
Jatuh ke pelukanku lagi.
Atau tenggelam bersama kenangan lama.

Apapun itu.
Tak mengubah takdirku padamu...

Tak Kusegerakan Usai

I owe the picture here

Tinggallah barang sejenak saja.
Tak kuhentikan waktu.
Biar bersamamu, meski sekejap.
Waktu terasa tak lekas usang.

Doa-doa malam,
adalah wajahmu yang ku aminkan.
Celah-celah mimpi berisi namamu.

Ini aku.
Menyebutmu dalam bahagia.
Kau, lembar terakhir buku ceritaku.
Tempat aku menuju,
mengakhiri rindu.

Kuluputkan lupa.
Ingatanku adalah ruang-ruang tempat kau bersembunyi.
Cinta adalah caraku untuk mencari.
Dan upaya kita adalah temu di antaranya.

Tinggalah barang sejenak saja.
bersamamu...
tak ingin kusegerakan usai.