Berapa Nilai Kamu?

By Robin Wijaya - Desember 16, 2011

Report Day... Report Day... Report Day...
Setiap akhir semester begini saya selalu disibukan dengan yang namanya nilai dan nilai. Mulai dari mengumpulkan nilai, mengolah nilai, sampai menunggu rekap nilai dari guru-guru bidang studi mampir ke meja saya. Begitu semuanya rampung, barulah nilai-nilai tersebut bisa masuk ke raport untuk dibagikan hari ini. Lega. Tapi siapa sangka, 'aktifitas repot' begini ternyata juga jadi momok buat anak-anak yang akan mendapatkan nilai hasil belajar mereka selama 1 semester?

Jauh sebelum report day hari ini, banyak pesan yang masuk ke blackberry messenger, SMS dan inbox facebook saya, yang pada intinya semua bertanya soal nilai. Yang ngirim pesan pun mulai dari orang tua, sampai anak-anak sendiri. Memangnya, ada apa sih dengan nilai? Ada apa sih dengan report day? Sebegitu seremnya gitu?

Honestly to say, saya adalah tipe orang yang nggak selalu memandang kualitas seorang anak dari nilai pelajaran belaka. Nilai memang bisa jadi indikasi pemahaman/ ketuntasan seorang anak terhadap apa yang mereka pelajari, tapi tidak mutlak menjadi penentu kesuksesan mereka.

Ada hal yang lebih penting dalam belajar menurut saya. Yaitu proses pembentukan karakter dan emosi positif si anak melalui kegiatan belajar tersebut.

Mungkin kita (orang tua dan guru) pernah mengalami masa-masa buruk di bangku sekolah dulu saat kita dicap sebagai anak gagal hanya karena nilai kita jelek atau tidak mencapai rata-rata kelas. Saya tidak keberatan dengan keharusan kita mengejar nilai atau prestasi. Tapi yang perlu ditekankan adalah bukan nilai/ hasilnya, tapi prosesnya. Dibanding mengatakan kepada anak 'kamu harus dapat nilai delapan', saya lebih suka menggunakan pilihan 'ayo usaha lebih giat, pasti kamu dapat nilai delapan'. Ada nilai positif dari kalimat kedua yang lebih berupa dukungan/ dorongan semangat dari guru/ orang tua.

Arahan kita untuk menjadikan belajar sebagai proses ketimbang hasil, juga ada kaitannya dengan raport yang diterima setiap enam bulan sekali. Nilai raport harusnya bukan menjadi judgement kita terhadap si anak. Tapi salah satu cara agar kita bisa membimbing anak membentuk karakter mereka (selain berbagai macam cara lainnya baik itu akademis maupun non-akademis).

Kita bisa mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab dengan tugas-tugas harian yang diberikan guru, PR, atau pun ulangan harian yang biasanya diadakan 1 - 2 bulan sekali. Ajak anak-anak untuk memperhatikan dan mempersiapkan diri terhadap hal-hal tersebut. Ajak mereka mengenal dan mengambil tanggung jawab. Semuanya, tentu dilakukan dengan dorongan semangat dan kata-kata yang positif. Biarkan anak mencoba dan membuat standar mereka sendiri, bukan harus mencapai target yang ditetapkan orang tua. Biarkan anak memilih apa yang menjadi pilihan mereka, bukan melakukan ketetapan yang kita putuskan tanpa mendengar pendapat mereka. Barulah nanti, saat hasil nilainya keluar, kita jelaskan apa yang telah mereka lakukan/ usahakan akan memberikan hasil seperti yang mereka dapatkan. Sebab-akibat yang dilakukan sendiri oleh si anak akan mendorong mereka untuk mengenal awal-proses-hasil. Dan saya yakin, mereka akan bisa memilih mana yang sebaiknya dilakukan ketimbang harus bekerja di bawah paksaan. Dan jangan lupa, pujilah mereka seberapa pun hasil yang telah mereka dapatkan. Karena pujian adalah cara paling mudah untuk membakar semangat seseorang.

Berapa nilai kamu, bukan lah kalimat yang tepat untuk menghargai apa yang telah mereka lakukan. Kenapa tidak kita katakan 'bagaimana hasil usahanya? Berhasil?' --sambil senyum ya--. Dan setelah dijawab, katakan 'berapa pun nilainya, kamu adalah juara' (karena mereka/ anak-anak telah melewati masa-masa yang cukup sulit dan berat untuk meraih hasil tersebut)

Kita sedang membentuk dan menciptakan seseorang untuk masa depan. Sadarkah kita, kalau apa yang sekarang kita terapkan pada anak-anak kita, akan berakibat pada kehidupan anak-anak kita di masa mendatang?
Ini tugas saya, dan tugas anda (sebagai guru dan orang tua), untuk membimbing mereka.


Anak-anak kita adalah juara. Jika belum untuk dunia sekali pun, paling tidak untuk diri sendiri.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar