Minggu, 25 Desember 2011

Menunggu Kelahiran Anak ke-3

Hampir pergantian tahun, dan belum pernah saya merasa se-exited ini menunggu tahun baru. Bukan karena perayaannya atau apapun di tanggal 31 nanti. Tapi, ada sesuatu yang sudah cukup lama saya tunggu-tunggu, yang bakal datang di tahun 2012 nanti. Yaitu... my third solo book. Buku ketiga saya...!!!

Well, sebenernya ini bukan novel baru. Tapi novel lama yang saya tulis sekitar setahun yang lalu. Kabar kalau novel tersebut akan diterbitkan sudah datang sekitar Februari/ Maret 2011 lalu. Tapi proses revisinya sendiri baru berjalan sekitar September. Mulai dari proses revisi sampai editing (dan sekarang yang sepertinya sudah hampir mendekati finish), saya cuma mikir "wow, it happens, it works...". Kenapa nggak, 3 tahun yang lalu naskah novel saya pernah ditolak oleh penerbit yang sama. Dan sejak saat itu saya cuma bisa melihat banyak penulis-penulis yang melahirkan karyanya lewat penerbit yang satu ini, termasuk penulis favorit saya (Raditya Dika dan Winna Efendi). Jadi begitu naskah saya dikabari akan diterbitkan, rasanya seperti...... hmmmm, bayangin sendiri aja deh :p

Soal isi novelnya, proses pengerjaan dan lain-lain akan saya share kemudian ya. Sekarang, saya mau kasih bocoran soal judulnya dulu, biar teman-teman nebak-nebak seperti apa sih ceritanya. Ada beberapa judul dan tagline yang kami diskusikan. Di antaranya adalah:

-BEFORE US
-LIE TO HER
-SECRETS AND LIES
-THE COMEBACK
-WHO DO YOU LOVE?
-UNFAITHFULLY YOURS
-TRULY
-THE CHOICE
-EVEN IF

Banyak banget ya pilihannya, hehehehehe. Awalnya sih saya pilih UNFAITHFULLY YOURS. Tapi setelah dibaca berkali-kali jadi teringat salah satu judul novel yang sudah terbit lebih dulu dengan pelafalan yang hampir mirip. Dari penerbit sendiri suggest BEFORE US karena judul tersebut berkaitan dengan masalah awal yang kemudian menjadi konflik utama dalam novel tersebut. Jadi, untuk sementara mungkin BEFORE US adalah pilihan terbaik yang akan dipilih (kalo redaksi yang milih, saya sih percaya-percaya aja, karena mereka lebih berpengalaman kan).

So, minggu depan mudah-mudahan judul dan tag line nya sudah fix. Begitu semuanya oke, saya akan share soal isi novelnya ya (nunggu kabar dari redaksi juga soalnya). Doakan lancaaarrrr.....

Kamis, 22 Desember 2011

Winna Efendi

Beberapa hari yang lalu saya ngobrol dengan seorang teman dari komunitas menulis di facebook. Niat awalnya sih untuk ngomongin proyek antologi yang akan kita kerjakan tahun 2012 nanti, jumlah kontributornya 5 orang dan semuanya lelaki. Masing-masing dapet tugas menulis genre yang berbeda. Ada yang tentang persahabatan, nilai kehidupan, orang tua, motivasi dan romance. Dan, saya kebagian jatah untuk nulis part romance, karena katanya tulisan-tulisan sata yang touching dan sweet. Masa sih? Hehehehehe...

Well, obrol punya obrol, ngomongin soal tulisan yang manis, kami pun saling share soal penulis favorit yang mungkin menginspirasi gaya menulis kami (walaupun kata seorang editor yang pernah saya temui, nggak ada orang yang punya gaya menulis 100% sama persis dengan penulis lainnya. Kalo ada yang sama persis, malah bisa jadi plagiat. Mungkin lebih tepat dibilang, terinspirasi dan akhirnya mempengaruhi gaya menulis kita).

Ditanya soal penulis favorit. Saya juga bingung. Karena selama ini saya tidak pernah merasa benar-benar memfavoritkan satu orang yang akhirnya jadi idola saya. Memang sih, ada beberapa penulis yang saya sukai secara cerita, gaya menulis, bahasa atau yang lainnya. Tapi setelah dilihat-lihat lagi, masing-masing penulis yang saya idolakan itu punya kelebihan sendiri-sendiri. Misalnya Nicholas Sparks, saya menyukai buku-bukunya karena cerita cintanya yang umum tapi secara alur berbeda dan nggak sama dengan kebanyakan novel romance lainnya. Ada Raditya Dika yang kocak dan konyol tapi punya nilai intelektual dalam tulisannya. Andrei Aksana yang harus diakui kalo dia emang puitis dan jago bikin ide sederhana jadi berasa dramatis. Dan, Winna Efendi yang monolog dan dialog tokoh-tokohnya selalu meninggalkan kesan. Jadi, kalo harus mengidolakan, siapa ya yang diidolakan? Hehehehe...

Kenapa akhirnya saya nulis soal Winna Efendi? Karena ternyata dari 4 penulis di atas. Ada 1 yang punya nilai dan kenangan tersendiri. Winna Efendi adalah awal mula saya membaca dan kemudian menulis romance. Jauh sebelum saya membaca novel-novel bergenre sejenis, saya pertama kali membaca novel AI yang ditulis Winna - dan langsung bilang, "Cerita dan bahasa penulisnya bagus. Suka!". Novel-novel Winna juga salah satu novel yang sering saya baca berulang-ulang. Dan setiap kali saya membaca (lagi), saya selalu menemukan sesuatu (lagi) entah itu soal ceritanya, pesan dari ceritanya, maupun teknik-teknik menulis yang Winna suguhkan dalam karyanya. Saya selalu menyukai bagaimana cara Winna membangun dialog dan monolog yang melibatkan emosi saya sebagai pembaca. Gaya Winna mengurai cerita yang kebanyakan menggunakan POV orang pertama juga membuat saya merasakan langsung bagaimana cara si tokoh berpikir, berinteraksi satu sama lain dan akhirnya menciptakan solusi. Selain itu, diksi yang digunakan juga tidak berlebihan yang ujung-ujungnya jadi terkesan lebay. Penyelipan quote-quote yang tepat dan membuat novelnya meninggalkan kesan setelah dibaca.

So, I found the one who inspired me now. Winna Efendi. Setidaknya sampai saat ini. Jadi, kalo nanti ditanya, saya nggak bingung-bingung amat nyari nama (karena, aneh juga ya kalo dibilang nggak ada siapapun yang menginspirasi hidup kita, hehehehe).

Dan, ini lah beberapa novel Winna dari sekitar 5 buku yang sudah ia tulis.

AI - Cinta Tak Pernah Lelah Menanti
This is my most favorite of Winna Efendi



Refrain - Saat Cinta Selalu Pulang
Selalu ada alasan untuk baca novel ini lagi :)



Remember When - Ketika Kau Dan Aku Jatuh Cinta
Secara konflik dan emosi, saya paling suka yang ini



Rabu, 21 Desember 2011

untitled

Rasa yang tak memilih, pada siapa ia ingin hadir.
Bahkan kita tak sanggup menolak.
Entah kenapa?

Ada yang terjadi di antara kita,
kemudian.
Perasaan yang tak bisa menunggu.


Jumat, 16 Desember 2011

Berapa Nilai Kamu?

Report Day... Report Day... Report Day...
Setiap akhir semester begini saya selalu disibukan dengan yang namanya nilai dan nilai. Mulai dari mengumpulkan nilai, mengolah nilai, sampai menunggu rekap nilai dari guru-guru bidang studi mampir ke meja saya. Begitu semuanya rampung, barulah nilai-nilai tersebut bisa masuk ke raport untuk dibagikan hari ini. Lega. Tapi siapa sangka, 'aktifitas repot' begini ternyata juga jadi momok buat anak-anak yang akan mendapatkan nilai hasil belajar mereka selama 1 semester?

Jauh sebelum report day hari ini, banyak pesan yang masuk ke blackberry messenger, SMS dan inbox facebook saya, yang pada intinya semua bertanya soal nilai. Yang ngirim pesan pun mulai dari orang tua, sampai anak-anak sendiri. Memangnya, ada apa sih dengan nilai? Ada apa sih dengan report day? Sebegitu seremnya gitu?

Honestly to say, saya adalah tipe orang yang nggak selalu memandang kualitas seorang anak dari nilai pelajaran belaka. Nilai memang bisa jadi indikasi pemahaman/ ketuntasan seorang anak terhadap apa yang mereka pelajari, tapi tidak mutlak menjadi penentu kesuksesan mereka.

Ada hal yang lebih penting dalam belajar menurut saya. Yaitu proses pembentukan karakter dan emosi positif si anak melalui kegiatan belajar tersebut.

Mungkin kita (orang tua dan guru) pernah mengalami masa-masa buruk di bangku sekolah dulu saat kita dicap sebagai anak gagal hanya karena nilai kita jelek atau tidak mencapai rata-rata kelas. Saya tidak keberatan dengan keharusan kita mengejar nilai atau prestasi. Tapi yang perlu ditekankan adalah bukan nilai/ hasilnya, tapi prosesnya. Dibanding mengatakan kepada anak 'kamu harus dapat nilai delapan', saya lebih suka menggunakan pilihan 'ayo usaha lebih giat, pasti kamu dapat nilai delapan'. Ada nilai positif dari kalimat kedua yang lebih berupa dukungan/ dorongan semangat dari guru/ orang tua.

Arahan kita untuk menjadikan belajar sebagai proses ketimbang hasil, juga ada kaitannya dengan raport yang diterima setiap enam bulan sekali. Nilai raport harusnya bukan menjadi judgement kita terhadap si anak. Tapi salah satu cara agar kita bisa membimbing anak membentuk karakter mereka (selain berbagai macam cara lainnya baik itu akademis maupun non-akademis).

Kita bisa mengajarkan anak-anak untuk bertanggung jawab dengan tugas-tugas harian yang diberikan guru, PR, atau pun ulangan harian yang biasanya diadakan 1 - 2 bulan sekali. Ajak anak-anak untuk memperhatikan dan mempersiapkan diri terhadap hal-hal tersebut. Ajak mereka mengenal dan mengambil tanggung jawab. Semuanya, tentu dilakukan dengan dorongan semangat dan kata-kata yang positif. Biarkan anak mencoba dan membuat standar mereka sendiri, bukan harus mencapai target yang ditetapkan orang tua. Biarkan anak memilih apa yang menjadi pilihan mereka, bukan melakukan ketetapan yang kita putuskan tanpa mendengar pendapat mereka. Barulah nanti, saat hasil nilainya keluar, kita jelaskan apa yang telah mereka lakukan/ usahakan akan memberikan hasil seperti yang mereka dapatkan. Sebab-akibat yang dilakukan sendiri oleh si anak akan mendorong mereka untuk mengenal awal-proses-hasil. Dan saya yakin, mereka akan bisa memilih mana yang sebaiknya dilakukan ketimbang harus bekerja di bawah paksaan. Dan jangan lupa, pujilah mereka seberapa pun hasil yang telah mereka dapatkan. Karena pujian adalah cara paling mudah untuk membakar semangat seseorang.

Berapa nilai kamu, bukan lah kalimat yang tepat untuk menghargai apa yang telah mereka lakukan. Kenapa tidak kita katakan 'bagaimana hasil usahanya? Berhasil?' --sambil senyum ya--. Dan setelah dijawab, katakan 'berapa pun nilainya, kamu adalah juara' (karena mereka/ anak-anak telah melewati masa-masa yang cukup sulit dan berat untuk meraih hasil tersebut)

Kita sedang membentuk dan menciptakan seseorang untuk masa depan. Sadarkah kita, kalau apa yang sekarang kita terapkan pada anak-anak kita, akan berakibat pada kehidupan anak-anak kita di masa mendatang?
Ini tugas saya, dan tugas anda (sebagai guru dan orang tua), untuk membimbing mereka.


Anak-anak kita adalah juara. Jika belum untuk dunia sekali pun, paling tidak untuk diri sendiri.

Kamis, 15 Desember 2011

Us...



Ada sebelah lenganku, untukmu berpegangan.
Aku bukan satu-satunya. Tapi percaya lah, aku bersedia, kapan pun kau butuh.

Aku punya telinga. Tapi bukan dengan itu aku mendengar.
Biar hati yang melakukannya untuk setiap yang kau ceritakan kepadaku.

Ada waktu untuk kita duduk bersama.
Secangkir kopi hangat untuk mengisi tawa di sela obrolan.
Dan untuk pelengkap, aku menyelipkan sesuatu di antara kita: senyum untuk menguatkan dan meyakinkanmu bahwa kau tak pernah sendiri.

Hidup adalah perjalanan mengumpulkan sejumlah kenangan.
Dan untuk itu, aku menaruh namamu dalam deret panjang yang pantas di kenang.
Aku menaruh fotomu di salah satu sudut ruangan, agar aku tak cepat lupa wajahmu (meski akan ada banyak wajah baru yang hadir nantinya)

Kau tak perlu ragu. Kau tak perlu takut.
Waktu mengubah wajah dan usia kita, tapi tidak dengan ingatan.
Kau disana. Selamanya.

Kalau kau percaya Tuhan, kalau kau menginginkan surga.
Amin kan dalam hati.
Kita bertemu lagi di sana.
Suatu ketika, nanti.


*Sore, dan secangkir kopi. Untuk kamu, yang masih percaya 'sahabat adalah bagian terbaik dalam kenangan'

Selasa, 13 Desember 2011

Setahun Kemarin

Siang ini nggak sengaja saya ngintip-ngintip berandanya Gagas Media. Sebenernya sih, mau lihat sinopsis novelnya Mbak Morra Quatro, karena udah nunggu-nunggu juga novel keduanya si Mbak Pintar Matematika itu. Tapi nggak sengaja, saat ngintip-ngintip beranda Gagas, saya malah tertarik untuk nengok akun Gagas lainnya yang pernah dipakai untuk media informasi penulisan lomba roman (100% Roman Asli Indonesia). Jadi deh ngintip kesan. Dan gara-gara ngintip juga lah, nggak sengaja jadi keinget cerita setahun kemarin (15 Desember 2010).

Besok, 15 Desember 2011, tepat satu tahun berakhirnya event menulis 100% Roman Asli Indonesia. Kompetisi yang dimenangkan oleh Wulan, Mbak Syl dan Yoana itu jadi kenangan tersendiri buat saya ternyata. Saya memang belum beruntung memenangkan event tersebut, tapi setidaknya saya cukup bangga dengan masuk 20 besar.

Bukan soal 20 besarnya sih yang paling berkesan (no... no... no... bangga juga lah, hahahaha). Tapi, ada hal-hal lain di luar pencapaian tersebut yang saya rasakan semenjak mengikuti kompetisinya. Gara-gara event tersebut, saya jadi punya banyak teman dan kenalan penulis, sampai yang akhirnya ngerasa akrab banget padahal belum pernah ketemu. Dari teman-teman 20 besar, paling asyik ya kalo ngobrol sama Mbak Winda - Mami slebor yang kocak abis, tweet-tweet dan curhat ngasalmu jadi penghibur loh MbakWin *nyengir*. Cherry Zhang yang sering mampir ke catatan facebook saya, Wulan yang baik dan ramah, Mbak Hapsari yang enak diajak chatting, Mbak Riawani - yang ternyata kita udah pernah satu buku antologi tapi sama-sama nggak sadar ya Mbak, hahahaha. Juga Jevo Jett yang nggak tahu kabarnya ada dimana (gue nungguin kelanjutan cerita lo yang di facebook, bro). Selain teman-teman sesama finalis, saya juga beruntung bisa dipertemukan dengan penulis-penulis besar lainnya seperti Sefryana Khairil, Fidriwida, Armaya Junior, Mbak Netty Virgiantini, Aditia Yudis, sampe Christian Simamora. Yang buat saya, nggak pernah kepikiran rasanya bisa ngobrol dan mendengar langsung ide-ide para penulis yang selama ini cukup misterius buat saya (karena cuma lihat namanya di cover buku dan profil penulis).

Lomba roman Gagas Media juga mengantarkan saya (kembali) pada hobi lama yang sudah saya tinggalkan, yaitu menulis. Dulu, saya pernah menulis novel dan dengan suksesnya ditolak (anehnya, sama Gagas Media juga, hehehe). Dan semenjak dari itu saya nggak pernah nulis lagi. Tapi sejak event tersebut, saya jadi punya keasyikan tersendiri setiap kali menulis atau memikirkan ide untuk ditulis (kayak jatuh cinta kedua kali gitu, oke lah ini boleh dibilang lebay :p). But, I'm really serious, in fact akhirnya bisa publish 2 kumcer solo meskipun masih lewat label indie, 1 antologi lewat label major, dan beberapa antologi bersama group dan forum menulis di facebook. Jumlah postingan di blog dan catatam FB juga bertambah (mulai rajin kan?), dan... saya sangat menikmati prosesnya.

Anyhow, tinggal nunggu beberapa jam lagi untuk masuk tanggal 15 Desember. Satu tahun saya (benar-benar) ngerasa nulis. Makasih Gagas Media untuk kesempatannya. Makasih juga teman-teman yang semakin hari semakin nyindir saya (kalian produktif banget sih, dan tulisannya makin enak dan asik dibaca). Kapan ya bisa kumpul dan ngopi bareng-bareng, sambil.... dengerin curhat masing-masing soal tanggal 15 Desember gitu?

:D :D :D

*crew Gagas, siapa pun yang ngelihat ini. Mohon dimaafkeun, numpang pasang logonya ya. Nuhuunnn.....



Rabu, 07 Desember 2011

First Time, We Felt in Love




Ingatkah kamu, pagi ketika kita jatuh hati?
Pagi ketika aku datang, dan kamu menunggu dengan senyum. Seolah percaya ada kebahagiaan yang siap dijemput.

Ingatkah kamu, siang ketika kita jatuh hati?
Di antara sesak orang yang berjejal di jalan, di antara debu yang berterbangan, di antara peluh dan kulit yang mulai terbakar. Tak ada yang kurang bagiku. Bahkan matamu adalah teduh, tempat aku berlindung dari perasaan yang menyengat.

Ingatkah kamu, sore ketika kita jatuh hati?
Tak ada keluhan sedikit pun darimu. Itu kah yang disebut cinta? Menerima kurang dan lebih. Mengerti salah dan benar.

Ingatkah kamu, malam ketika kita jatuh hati?
Seandainya waktu berhenti. Aku tak perlu resah. Tak perlu takut perpisahan. Meski aku tahu, cinta tak akan lenyap hanya karena kita terlelap.

Di setiap jeda. Di antara sela waktu. Di antara banyak kesulitan dan kemudahan. Yakinkan aku pada kebenaran perasaanmu.
Bagiku, mencintaimu adalah penghargaan atas perasaanku. Ada harapan, ada nilai, ada kesungguhan untuk itu.

Waktu yang tak pernah diam, akan terisi dengan kejadian dan pengalaman baru. Apakah hati juga? Bukankah seharusnya, ruang sudah cukup diisi dengan ‘kita’ saja?

Segalanya bisa berubah. Jalan, gedung, pohon, orang-orang di sekitarmu. Apakah perubahan yang terjadi diluar, juga akan membawa perubahan di dalam hati kita? Bukankah seharusnya, perasaan kita masih sama?

Aku masih ingat kali pertama kita jatuh cinta.
Tatapan pertamamu, senyum pertamamu, anggukan pertamamu, caramu duduk, caramu bicara, caramu mengucapkan salam ketika kita berpisah di muka pintu. Menjelaskan bagaimana aku mencintaimu.

Kita bertemu, kemudian.
Kamu mengurai senyum, dan berkata, “ini adalah titik awal dimana aku menanggalkan semua ragu. Ingat kah kamu?”

Aku berpaling. Ingin menyembunyikan kejujuran darimu. Dan berkata singkat,
“Tanya aku, seberapa banyak aku mengingatmu?”
Kujawab,
“SETIAP KALI…”