Langsung ke konten utama

TEMU



Tak terpikirkan sekali pun untuk mendengar suara kakimu datang di sore itu.
Ketika langkahmu sampai, dan aku menatap ujung sepatumu di atas lantai batu.
Kuangkat kepala. Kutemukan wajahmu.
Senyummu, tawamu, caramu menyapa. Masih sama.
Aku rindu segala tentangmu.

Tawamu sore itu telah menjadi cerita paling kudamba.
Kutatap berkali-kali. Berharap, setiap detik akan melekatkan semua gambar dalam kepalaku.
Hingga aku tak perlu lagi mencari bayanganmu dalam memori.

Kau duduk...
Meletakkan cangkir keramik yang beradu pada meja kayu.
Uap panas dalam teh mu seolah mengatakan, rindu telah menguap pergi.
Aku menggenggam kedua tanganmu.
Kukatakan, tinggalah di sini.

Kita bicara dan tertawa.
Ada bayanganku terpantul di kedua matamu.
Seandainya kutemukan satu yang lainnya. Cinta, yang kutunggu sekian lama.
Yang mengendap bersama di sana.
Mau kah kau menunjukkannya juga?

Berbagi waktu yang sempit bersama kehadiranmu sore itu.
Kita menyesap teh dari bibir gelas yang sama.
Menyisakan tetesan yang telah tandas.
Akan pergi kah kau setelah ini?

Suaramu masih serupa langit sore yang membuatku rindu akan rumah.
Tapi masalahnya, apakah kau juga akan pulang ke tempat yang sama?
Setiap pertemuan membawa rasa gembira dan takut sekaligus.
Aku takut, kau akan pergi setelahnya.

Boleh aku berdoa?
Meminta Tuhan membawaku pada waktu sebelum kehadiranmu.
Mencegah langkahmu sampai bersama rindu yang terlalu.
Aku tak mau kau datang lalu pergi.
Rindu setelah bertemu, selalu menyakitkan.
Karena mungkin kau tak akan pernah kembali lagi setelah itu.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Curhat Cinta. Cinta Yang Tua.

I owe the picture here

Ini curhat nyeleneh...
Sebuah curhat tentang cinta yang sudah tua.
Karena kamu sudah menciptakan banyak kenangan baru.
Sedangkan kenanganku masih itu-itu saja.

Apa sebutan bagi orang yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan masa lalunya?
Gagal move on?
Ah, tak pernah ada yang benar-benar berhasil di dunia ini.
Mereka yang menggenggam hari baru, sesungguhnya tak betul-betul sukses melupakan, tapi hanya mengendapkan perasaan.

Anggap saja ini nostalgia.
Nostalgia yang menghadirkan romansa.
Namun kamu terdiam dalam jutaan harap serupa gemintang.
Membuat hatiku ciut.
Jangan-jangan malamku akan selalu sama.
Ditelan sedih lagi.
Diakhiri mimpi lagi.

Aku ini... bisa jadi hanyalah bintang jatuh.
Diucap bagai doa, tapi tak pernah jadi siapa-siapa.
Dan kamu itu apa ya?
Oh! Kotak mimpi tempat aku menaruh ingin.
Bukankah untuk menggapai sesuatu yang tinggi, seringkali kita diajarkan bermimpi?
Karena mimpi adalah sebebas-bebasnya harap boleh tercipta.
Kita tak perlu berhut…

Cinta dan Rahasia (sebuah nukilan dalam buku Glenn Fredly 20)

Tulisan ini diambil dari cerpen Cinta dan Rahasia yang saya tulis dalam buku Glenn Fredly 20. Semoga pada akhirnya, bahagia adalah kata terakhir yang akan cinta berikan kepada kita.


Rasanya aku jatuh cinta lagi. Undanganmu hanya sebuah pesan singkat yang terkirim lewat layanan chatting gratis. Halamannya bersih tanpa pernak-pernik. Hanya ada latar berwarna lembut dengan barisan tulisan font default warna hitam. Sederhana. Apa adanya. Tapi entah kenapa, rasanya seperti mendapat surat cinta paling indah. Yang baunya harum dan tulisannya berukir serta diselipi setangkai mawar merah.
Aku cuma mau ketemu berdua. Duduk yang lama.  Mandangin hujan yang lama. Aku sedang butuh waktu untuk menyepi. Kamu mau kan nemenin?
Kau tak perlu bertanya sebetulnya. Kau sudah tahu jawabannya. Aku akan mengiyakan permintaanmu. Apapun itu. Belum apa-apa, sudah kubayangkan indahnya pergi berdua. Tak ada kebersamaan lain yang sepadan. Tak perlu hal-hal lain menjadi pelengkap. Makanan enak, musik yang bagus, kamar yan…

Ruang Di Sela-Sela Jariku

I owe the picture here
Kau tahu mengapa Tuhan menciptakan ruang di sela-sela jarimu?
Karena Tuhan akan mengirim seseorang untuk mengisi ruang tersebut.
Menggenggam jemarimu suatu saat.

Mendekatlah, telah kusiapkan pelukan terhangat ketika kau pulang.
Kau tak perlu menjamin kebahagiaanmu.
Seperti aku yang tak mampu memberikan bahagia yang terlampau sempurna.
Karena aku hanya punya sebuah janji sederhana.
Kesediaan untuk ikut menangis bersamamu ketika kau bersedih.
Atau luapan kegembiraan atas kemenanganmu.

Kau tahu kenapa kita selalu butuh rumah?
Karena dari sana lah cinta bermula.

Dan seperti perjalanan panjang yang berakhir dengan pulang.
Seperti itu lah seharusnya cinta.
Aku yang menunggumu di muka pintu.
Dan langkah kakimu yang menuju kepadaku.

Sini, telah kusiapkan sebelah genggaman tangan untukmu.
Seperti cinta yang Tuhan kirimkan pada ruang di sela-sela jariku.
Hanya kau yang mampu memenuhinya...