Cinta dan Rahasia (sebuah nukilan dalam buku Glenn Fredly 20)

By Robin Wijaya - November 06, 2015

Tulisan ini diambil dari cerpen Cinta dan Rahasia yang saya tulis dalam buku Glenn Fredly 20. Semoga pada akhirnya, bahagia adalah kata terakhir yang akan cinta berikan kepada kita.


Rasanya aku jatuh cinta lagi.
Undanganmu hanya sebuah pesan singkat yang terkirim lewat layanan chatting gratis. Halamannya bersih tanpa pernak-pernik. Hanya ada latar berwarna lembut dengan barisan tulisan font default warna hitam.
Sederhana. Apa adanya.
Tapi entah kenapa, rasanya seperti mendapat surat cinta paling indah. Yang baunya harum dan tulisannya berukir serta diselipi setangkai mawar merah.

Aku cuma mau ketemu berdua. Duduk yang lama.  Mandangin hujan yang lama. Aku sedang butuh waktu untuk menyepi. Kamu mau kan nemenin?

Kau tak perlu bertanya sebetulnya. Kau sudah tahu jawabannya. Aku akan mengiyakan permintaanmu. Apapun itu.
Belum apa-apa, sudah kubayangkan indahnya pergi berdua. Tak ada kebersamaan lain yang sepadan. Tak perlu hal-hal lain menjadi pelengkap. Makanan enak, musik yang bagus, kamar yang nyaman. Kita tidak membicarakan kualitas dari luar, tapi dari dalam.
Dan kau mulai bercerita banyak hal di pertemuan kita. Aku suka. Selain raut wajah yang kukagumi. Kehangatan setiap kata yang kau pilih adalah jerat yang tak mungkin lolos kulalui. Waktu seperti bocor ketika berada di sebelahmu. Hingga kau pilihkan topik itu.
“Salah ya, berharap terlalu banyak dari orang yang kita cintai?” tanyamu. Aku mulai gundah.
“Nggak. Tapi yang pasti, kalau berharap, harus siap kecewa juga.”
Kau mengangguk setuju pada pendapatku. Kau berhenti, dan tak lagi bercerita. Jangan-jangan, malam ini akan segera kau akhiri.
Aku meremas jemarimu. Jika boleh, ingin kuberi satu pelukan. Aku ingin kau tahu, terlalu sia-sia untuk menangisi segala yang kau punya. Tapi kau tetap memilih hal itu. Malam kita jadi canggung. Romantisme dalam kepalaku menguap. Sebab angan-anganku yang mengacaukan segalanya? Atau, ini memang strategimu untuk membuatku patah lagi?
“Kalau kamu? Apa yang paling kamu harapkan dari orang yang kamu cintai?” tanyamu, kemudian. Aku tertawa dalam hati. Kau pasti sedang bercanda dengan pertanyaanmu.
“Apa?” Kau sedikit mendesak.
“Sederhana. Orang tersebut balas mencintaiku.”
Kau mengangguk lagi. Kau setuju lagi. Sayangnya, kau tak pernah melakukan itu padaku.


* * *

  • Share:

You Might Also Like

1 komentar