Sirkumstansi Adat Faisal Oddang

By Robin Wijaya - Februari 14, 2016

Ada satu tradisi yang dianut oleh keturunan suku Toraja. Upacara adat kematian yang dikenal dengan nama Rambu Solo, yang digelar dengan tujuan untuk menghormati dan menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia kembali kepada keabadian leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.
Terkadang, upacara ini pun disebut pula penyempurnaan kematian. Karena suku Toraja percaya bahwa sebelum seluruh prosesi upacara selesai, maka orang tersebut belum benar-benar dianggap meninggal dunia. Mereka hanya dianggap sebagai orang sakit atau lemah yang akan tetap diperlakukan seperti halnya seseorang yang masih hidup. Dan pantang bagi mereka yang bertalian dengan upacara kedukaan tersebut untuk menyelenggarakan upacara kesenangan semacam pernikahan, sebelum Rambu Solo digenapi.


Upacara Rambu Solo. Picture by www.indonesiakaya.com


Berangkat dari tradisi Rambu Solo itu lah, Faisal Oddang menjadikannya embrio untuk menuturkan kisah Rinai, Lamba dan Wanua. Mereka yang bertalian hati dalam Pertanyaan Kepada Kenangan. Mengangkat budaya Toraja dalam kisahnya. Membuat simpul di antara anak manusia. Terikat satu sama lain.

Cerita berjalan sedari awal oleh tradisi yang membuat hati Rinai patah. Bagaimana cinta dikalahkan oleh sesuatu yang sudah beratus-ratus tahun lamanya. Ya, apalagi namanya kalau bukan adat? Ketika Lamba memilih untuk menuruti petuah leluhur ketimbang memperjuangkan perasaannya. Sedang Rinai, tak mampu menuntut harapan di atas kehilangan. Ia mengerti, kelak, kehilangan adalah satu-satunya hal yang bisa menjadi alasan bagi seseorang untuk memilih jalan yang bersimpangan. Kelak pula, ia bertemu Wanua. Yang telah menyadarkannya untuk kembali yakin pada sebuah harap. Namun benarkah, cinta selalu seperti itu jalannya? Terluka, memulai lagi, dan hidup bahagia? Bagaimana jika kenangan muncul di antaranya?

Pertanyaan Kepada Kenangan adalah satu di antara beberapa buku yang menjadi bagian dari seri Indonesiana gagasan GagasMedia. Yang menggabungkan kisah fiksi dengan ragam budaya di Tanah Air. Pembicaraan mengenai seri ini seingat saya sudah dimulai sejak akhir 2013 lalu. Tidak disebutkan kapan persisnya seri ini akan lahir. Sampai pada 2015 lalu, GagasMedia akhirnya merilis satu demi satu novel yang menjadi bagian dari seri ini.

Beberapa penulis kenamaan pun didapuk menjadi penutur. Sebut saja Helga Rif, Okke Sepatumerah, Dian Purnomo, Guntur Alam dan Faisal Oddang. Khusus dua yang terakhir, bisa disebut yang teranyar karena tiga buku lainnya sudah terbit jauh hari lebih dulu.

Tanpa budaya lokal, buku-buku seri Indonesiana, mungkin tak jauh berbeda dengan karya sastra lainnya. Namun, ini lah menariknya. Ketika menggabungkan dua hal: keinginan manusia dan keteraturan tatanan dalam masyarakat. Semuanya akan berubah menjadi paradoks yang tak berujung. Lihat bagaimana Faisal Oddang menelisik kisah Rinai dan Lamba soal rencana pernikahan mereka. Bukankah menikah adalah hal sederhana ketika dua orang jatuh cinta dan merasa sudah siap berbagi waktu dan perasaan bersama dengan ikatan yang sah? Namun Faisal membenturkannya dengan keharusan adat yang mesti ia penuhi. Membuat Rinai berada dalam posisi bahwa dirinya seolah tak diperjuangkan. Lamba lebih takut akan tuntutan leluhurnya ketimbang mendengar suara hatinya. Bukankah itu juga yang banyak dihadapai manusia-manusia setiap harinya? Di tempat yang berbeda, dalam adat yang berbeda, dengan keharusan yang berbeda juga. Namun berada dalam sisi mata koin yang sama: diri sendiri atau budaya?

Di sini lah karya sastra berperan. Memberi pandangan, bukan memaksakan keyakinan. Saya yakin, ada kalanya dalam proses penulisan, Faisal dilema memikirkan hal ini, pada siapa ia akan memihak? Terlebih, ketika kisah ini sampai di tangan pembaca nantinya. Kita yang berada di luar lingkaran, seringkali memaksakan label yang kita pijak. Menuding mereka yang kontra sebagai orang yang tak punya toleransi. Sedang jika mereka pro, dianggap fanatik. Saya bersyukur, menutup Pertanyaan Kepada Kenangan dengan melompat ke dalam lingkaran yang diciptakan Faisal Oddang. Ia tak mau, saya sebagai pembaca hanya melihat di luar saja. Sini, rasakan bagaimana Rinai, Wanua dan Lamba berseteru dengan hati mereka. Karena segala sesuatu, hanya punya dua jawaban sebagai penutup: bahagia atau terluka.


Bagaimana denganmu? Ayo, duduk dan nikmati secangkir kopi tongkonan di sini. Ada Rinai, Lamba dan Wanua. Mereka siap memberi tangan untukmu ikut ke dalam lingkaran.

Ditulis oleh: Robin Wijaya


Pertanyaan Kepada Kenangan karya Faisal Oddang

Seri Indonesiana GagasMedia

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ikuti perjalanan One Book One Day seri Indonesiana GagasMedia. Catat tanggal, host dan penulis kisah ini. Ada giveaway di masing-masing website/ blog, dan giveaway yang diadakan oleh GagasMedia. Enjoy book, enjoy Indonesia!


  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Sangat menarik ya seri Indonesiana ini, mengangkat tema tentang adat di berbagai daerah di Indonesia, nama-nama di novel ini juga sangat 'Indonesia' sekali..tidak boleh terlewat untuk memiliki salah satunya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. menariknya, karena budaya indonesia ditulis dalam kisah modern

      Hapus