Curhat Cinta. Cinta Yang Tua.

By Robin Wijaya - Mei 19, 2016

I owe the picture here


Ini curhat nyeleneh...
Sebuah curhat tentang cinta yang sudah tua.
Karena kamu sudah menciptakan banyak kenangan baru.
Sedangkan kenanganku masih itu-itu saja.

Apa sebutan bagi orang yang tak pernah benar-benar bisa melepaskan masa lalunya?
Gagal move on?
Ah, tak pernah ada yang benar-benar berhasil di dunia ini.
Mereka yang menggenggam hari baru, sesungguhnya tak betul-betul sukses melupakan, tapi hanya mengendapkan perasaan.

Anggap saja ini nostalgia.
Nostalgia yang menghadirkan romansa.
Namun kamu terdiam dalam jutaan harap serupa gemintang.
Membuat hatiku ciut.
Jangan-jangan malamku akan selalu sama.
Ditelan sedih lagi.
Diakhiri mimpi lagi.

Aku ini... bisa jadi hanyalah bintang jatuh.
Diucap bagai doa, tapi tak pernah jadi siapa-siapa.
Dan kamu itu apa ya?
Oh! Kotak mimpi tempat aku menaruh ingin.
Bukankah untuk menggapai sesuatu yang tinggi, seringkali kita diajarkan bermimpi?
Karena mimpi adalah sebebas-bebasnya harap boleh tercipta.
Kita tak perlu berhutang.
Termasuk pada kesempatan.
Termasuk pada keinginan.

Masih saja curhat ini nyeleneh...
Ada istilah the best ever.
Cinta pun begitu.
Tapi... the best part of falling in love is... loving the right person.
Orang yang tepat belum tentu orang yang paling kita inginkan.
Jadi, meskipun kenanganku masih itu-itu saja.
Dan cinta ini sudah tua.
Hatiku belajar untuk jadi muda lagi.

Kamu, tak perlu lagi mengurung aku dalam tatapan yang penuh harap itu.
Malam tak lagi bertahan selamanya.
Aku adalah pagi kini. Menciptakan harapan sendiri.
Tak perlu menanti. Bisa jadi malah dinanti.

Kalau kamu datang lagi.
Kutepuk sisi bangku kayu di sebelahku.
Sini, kita boleh duduk sama-sama.
Kuceritakan kenanganku bersamamu.
Nostalgia boleh berubah jadi romansa.
Tapi jatuhku, tak akan lagi padamu...

  • Share:

You Might Also Like

2 komentar

  1. Tiap baca di sini pasti bikin ati adem, maaf om, jadi pelarian hati kecil yang belum pandai bersandiwara ini. �� �� thanks.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih... tak perlu bersandiwara. hati hanya perlu bicara apa adanya.

      Hapus